Beranda Ekbis Keruwetan Hidup yang Disebabkan Kabel Listrik

Keruwetan Hidup yang Disebabkan Kabel Listrik

Pejalan kaki melintas di depan tiang listrik dengan kondisi terlilit kabel tak beraturan di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, 28/9/2017.

Medio Juni 2011, sewaktu ada di Turin, Italia, saya secara acak memotret sebuah bangunan tua bergaya barok. Tampak indah, terutama karena ia dilintasi lima jalan sekaligus. Pak Tua yang menjaga kios koran tempat saya berdiri berceletuk dengan Bahasa Inggris patah-patah.

“Sayang kabelnya bikin jelek fotomu, ya.”

Yang dia maksud adalah kabel-kabel yang lewat centang perenang di atas bangunan itu. Dari depan bangunan tua, baik dari dekat atau kejauhan, kabel itu memang bikin keseluruhan jalanan khas Mediterania itu terlihat buruk dipandang. Lalu Pak Tua itu menyebutkan jenis-jenis kabel itu dengan gerutuan yang susah didengar kuping.

Tapi apa yang ada di Turin itu tentu tak seberapa jika dibandingkan di sebuah ruas jalan di Hanoi, Vietnam. Pada Desember 2016, sebuah situs berita di Hanoi menurunkan berita tentang buruknya instalasi kabel di ibu kota Vietnam itu.

“Salah satu titik keruwetan kabel hitam di Hanoi dinobatkan sebagai salah satu sistem kabel listrik terburuk di dunia oleh sebuah media kelistrikan di Inggris,” tulisnya dalam paragraf pembuka.

Yang dimaksud media Inggris itu adalah E&T, majalah teknik dan teknologi berbasis di Inggris. Majalah ini mengawali survei dengan menepuk dada lebih dulu, khas kebanggaan orang Inggris: mereka sudah punya “Rules and Regulations for the Prevention of Fire Risk Arising from Electrical Lighting” sejak 1882.

“Tapi apakah standar kelistrikan di seluruh dunia sama seperti standar kami?” tanyanya.

Untuk mencari jawaban itu, pada 2016, E&T mensurvei 138.000 ahli kelistrikan untuk mencari tahu contoh sistem kelistrikan mana yang paling buruk sekaligus paling berbahaya di dunia. Dari pilihan-pilihan para tukang listrik dari 500 tempat, diambil 12 yang terbaik; maksudnya jelas yang terburuk.

Peringkat pertama ternyata jauh dari keruwetan yang dibayangkan: sebuah instalasi listrik di sebuah gedung di Madras, India. Tak ada kabel yang saling membelit satu sama lain. Hanya sebuah kotak kayu kecil dengan bekas terbakar karena korslet, kotak meteran listrik, dan belasan kabel warna-warni yang dipasang seadanya. Tapi justru itu memperlihatkan tak ada standar dalam hal kelistrikan di sana, juga betapa tak peduli warga terhadap keamanan, klaim para tukang listrik itu.

“Meteran itu adalah sumber utama listrik yang dibajak oleh kabel-kabel enggak jelas, kemungkinan datang dari gerai-gerai yang berupaya mencuri listrik,” tulisnya.

India dan Vietnam tak sendiri dalam perkara kekacauan dan ketidakamanan instalasi kabel ini. Indonesia, sebagai negara yang punya banyak bentuk keruwetan lain, dikenal punya titik lintasan kabel yang ruwet. Apalagi di Jakarta yang padat. Kekacauan kabel di udara kerap memakan korban.

Pada September 2017, di tengah hujan yang mengguyur kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, seorang perempuan yang berjalan dengan anaknya meninggal kesetrum karena tersengat kabel yang pembungkusnya terkelupas.

Tirto pernah melakukan penelusuran singkat tentang korban yang meninggal karena kesetrum. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, terjadi satu kasus. Ada yang meninggal karena kabel listrik putus dan menempel pada genangan air. Ada yang meregang nyawa karena kesetrum kabel PLN yang menjuntai di tanah. Ada pula yang tewas karena menyentuh antena televisi: kabel listrik di atap rumah korban mengelupas dan menyentuh atap rumah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here