Taman Mini Indonesia Indah, Warisan Usang Keluarga Cendana

Taman Mini

 Kali terakhir saya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sekitar delapan tahun lalu. Saat kembali lagi ke sana dalam seminggu terakhir, nyaris tak ada yang berubah kecuali tampilan TMII yang lebih lusuh. Paling mencolok danau yang disebut “archipelago” yang jadi kebanggaan taman rekreasi itu sejak diresmikan pada 1975. Saat saya berkunjung, danau itu mengering. Wahana bebek air yang biasa wara-wiri teronggok begitu saja di pinggir danau.

“Sejak tahun ini kering begini,” kata Santi, penjual kios makanan di tepi danau.

Jumat awal November lalu, cuaca cukup cerah. Dengan tiket Rp15 ribu per jam, saya berkeliling TMII dengan menyewa sepeda wisata. Mungkin lantaran bukan hari libur, Jumat itu TMII terlihat senyap. Hanya satu-dua pengunjung di beberapa anjungan. Kecuali anjungan Sumatera Barat yang selalu ramai. Tugu api, yang biasanya ramai, nyaris melompong. Hanya terlihat beberapa penjual es keliling dan pedagang mainan.

Mampir ke Snowbay Waterpark, saya menyaksikan pemandangan yang kurang lebih sama. Tak ada antrean di loket. Hanya ada beberapa petugas yang mengepel lantai. Namun, pengunjung bisa jadi “ramai” bila melihat halaman parkir dipenuhi mobil.

Saya menjajal wahana andalan di TMII: kereta gantung. Naik dari terminal A dengan membayar tiket Rp40 ribu (Rp50 ribu jika akhir pekan), saya tak perlu mengantre karena benar-benar tidak ada pengunjung selain saya. Di kabin berkapasitas empat orang itu saya duduk sendiri. Dari ketinggian, saya dapat melihat danau “archipelago” kering yang membentuk gugusan kepulauan Indonesia. Sementara anjungan-anjungan masih terlihat sepi.

Dalam satu kali perjalanan bolak-balik antara terminal A dan terminal B, dari sekitar 20 kabin yang berseliweran, saya hanya berpapasan dengan dua kabin berisi pengunjung. Meluncur dalam senyap tanpa penumpang.

Di bawah, saya bertemu dengan sekelompok anak sekolah yang semula hendak membeli tiket. Namun, akhirnya urung.

“Mahal,” jawab mereka pendek.

Usai mencoba kereta gantung, saya melipir makan siang di dekat loket terminal A. Saat tengah menunggu pesanan, penjaga restoran lain, seorang ibu paruh baya, ke luar dari restoran untuk mengecek langit, memerhatikan kabin-kabin kereta gantung berseliweran.

Baca Juga :   Hunian Kamar Hotel di Lampung Turun 24,13 Persen

“Kereta gantung juga sepi,” keluhnya.

“Memang sering sepi seperti ini?” 

“Enggak juga. Kadang ramai kalau lagi ada rombongan dari sekolah-sekolah,” katanya. 

Di seberang terminal A Kereta Gantung, ada wahana paling ikonik yang dulu jadi andalan TMII: Teater IMAX Keong Mas. Cangkang emas raksasa menyembul dari balik pepohonan. Saat saya ke sana, lagi-lagi, tak ada antrean. Namun, lagi-lagi, bisa jadi hal ini lantaran jadwal film sedang diputar.

Bangunan Keong Mas itu bikin saya masygul. Dulu wahana ini megah. Sekarang warna keemasan sudah sedemikian lusuh. Belum lagi melihat daftar film yang tayang. Dari delapan jadwal tayang dengan empat film, hanya satu yang tampak asing, Born To Be Wild. Sisanya seperti Rocky Mountain (yang memiliki jadwal empat kali tayang) dan T-Rex, yang sangat familier sejak bertahun-tahun lalu.

Pengalaman Tawar di Dunia Air Tawar
Tak puas menjelajah Taman Mini dalam sehari, saya penasaran untuk kembali dan melihat tempat wisata ini pada akhir pekan. Dan betul saja, di dua hari libur itu, TMII terlihat lebih meriah. Di pinggiran Tugu Api, misalnya, banyak keluarga yang menggelar tikar untuk piknik pada Sabtu, pekan lalu. Sementara di parkiran terlihat bus-bus rombongan sekolah terparkir.

Pada Minggu lalu, saat saya kembali lagi, suasana jauh lebih ramai kendati hari itu hujan cukup deras. Hampir semua anjungan dipenuhi pengunjung. Hari itu saya memilih mengunjungi Dunia Air Tawar. Saya harus membayar Rp30 ribu atau Rp40 ribu jika sekaligus ingin menikmati 4D Cinema untuk menikmati wahana ini.

Begitu masuk, saya langsung disambut suasana redup dan lembab. Disusul bau amis dari kolam-kolam ikan. Tak jauh dari pintu masuk, terdapat kolam ikan Araipama yang legendaris. Saya langsung ngilu melihat ikan sepanjang satu meter itu diletakkan dalam kolam dengan diameter tak lebih dari lima meter. Hal yang sama terjadi pada beberapa ekor patin yang berdesakan di kolam sebelahnya.

Masuk sedikit ke Aquascape yang dipenuhi ikan koi dan dua ekor labi-labi malang, bau amis semakin tercium. Sementara lumut memenuhi dasar dan pinggiran kolam. Ditambah rembesan air hujan dari atap yang membuat ruangan makin lembab dan lantai batu menjadi licin.

Baca Juga :   GOR Way Handak Kalianda Tempat Nongkrong Seru dan "Instragrammable"

Di ruang pameran, terlihat kondisi yang hampir sama memprihatinkan, kalau tidak bisa dibilang lebih parah. Selain lebih gelap dan lembab, air di semua akuarium tampak keruh.

Putri dan Arif, salah dua pengunjung, berpendapat harga tiket masuk tidak setimpal dengan yang mereka dapatkan. Bagi Putri, akuarium di sini tak ada beda dengan di rumah. Hanya koleksinya yang berbeda.

“Biasa aja. Mungkin kalau waktu 1990-an ini tampak ‘Wah’, ya. Kalau sekarang enggak, deh. Tempatnya agak bau dan kurang terawat. Beda dengan Museum Reptil. Mungkin karena baru dibangun. Mungkin kalau mau dibandingkan, dengan Malang. Di Malang bagus pengelolaannya,” kata Putri.

Tempat wisata di Malang yang Putri maksud adalah Jatim Park dan Batu Secret Zoo. Memang jika dibandingkan dua tempat wisata itu, TMII terutama museum-museum lawasnya tertinggal jauh. 

Batu Secret Zoo, misalnya, pengelolaannya begitu rapi dan informatif. Pengunjung dibimbing sedemikian rupa agar sedapat mungkin tak melewatkan satu wahana pun. Atau, Museum Angkut yang sudah sedemikian modern. Dengan tampilan rapi, bersih, dan informatif seperti itu, pengunjung rela saja keluar kocek lebih besar.

“Enggak apa-apa, deh, mahal. Asal setimpal, ya. Kita nyaman dan berkesan,” timpal Arif.

Jika ingin lebih jauh, TMII bisa mencontek pelayanan maksimal yang diberikan pengelola Museum Fujiko F. Fujio di Jepang. Museum ini sudah terintegrasi dari transportasi dari dan menuju ke museum sehingga dapat memudahkan pengunjung mengaksesnya. Museum ini menyuguhkan informasi lengkap melalui alat bantu dalam pelbagai bahasa, serta petugas yang begitu sigap membantu pengunjung dari pelbagai negara. Mungkin hal ini bisa diadaptasi pengelola TMII.

Manajer Informasi TMII Dwi Windiarto tak menampik kritik ini. Ia sependapat mengenai kondisi Dunia Air Tawar dan beberapa wahana lain yang memprihatinkan.

“Makanya saat ini kami sedang menganggarkan renovasi besar-besaran untuk beberapa wahana. Misalnya Dunia Air Tawar, Teater Keong Mas yang juga banyak bocor, beberapa anjungan dan danau Archipelago,” terang Dwi.

Baca Juga :   Berani Coba Bersepeda Melayang? Datanglah ke Lombongo

Mengenai kondisi danau Archipelago, Dwi menjelaskan hal itu memang disengaja pihak pengelola untuk mengurangi penyedotan air tanah besar-besaran lantaran pajaknya yang mahal. Selain itu, terkait Keong Mas, TMII kesulitan memperbarui film-film yang ada.

“Biaya kontraknya mahal. Jika ada film baru pun paling tidak hanya bertahan enam bulan, sesuai perjanjian kontrak,” imbuh Dwi.

Lantas, jika untuk membayar pajak saja menunggak, bagaimana TMII memperoleh biaya renovasi?

Dalam surat permohonan audiensi kepada Pemprov DKI Jakarta tertanggal 22 Oktober 2018 terkait penunggakan pajak bumi dan bangunan, diketahui TMII meminta bantuan dana renovasi Rp40 milyar. Namun, permohonan itu hingga kini belum direspons pemerintahan Anies Baswedan.

Warisan Keluarga Cendana
Sejak 2013, pengelolaan TMII resmi dipegang pemerintah melalui Sekretariat Negara setelah selama 30 tahun dikelola penuh oleh Yayasan Harapan Kita bentukan Tien Soeharto. Sebelumnya, TMII memang kerap kali mendapat kritik, terutama dari DPR agar pengelolaannya segera dialihkan kepada pemerintah mengingat tempat wisata itu merupakan “aset negara.”

Bahkan dalam laporan analisis yuridis pengelolaan TMII yang dirilis pada Oktober 2014 oleh Universitas Sebelas Maret menyebut ada “disharmonisasi” hukum pengelolaan TMII.

Secara operasional, TMII sudah dipegang oleh Sekretariat Negara dengan menunjuk Taufik Sukasah dari lingkungan Setneg sebagai Direktur Umum.

Kendati demikian, dalam struktur manajemen, nama-nama anggota keluarga Cendana masih terpampang di bawah bendera Yayasan.

Misalnya saja Bambang Trihatmodjo, putra ketiga Soeharto, sebagai Pembina. Lalu Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto sebagai Ketua Umum. Sementara kursi Ketua diduduki Sigit Harjojudanto, anak kedua Soeharto; dan Indra Rukmana, suami Tutut, memegang Ketua Pengawas.

Peralihan pengelolaan ini bikin TMII nyaris minim sumber pendapatan, selain dari penjualan tiket. Ia tak mendapat subsidi dari pemerintah maupun yayasan. 

Taman Mini boleh saja mengklaim kondisi keuangannya masih sehat dengan mematok harga tiket Rp15 ribu. Namun, jika masih saja ada problem penunggakan pajak serta pengelolaan yang cenderung ogah-ogahan, miniatur Indonesia yang dibangun dari ego Tien Soeharto ini ini hanya akan berakhir menjadi warisan usang Keluarga Cendana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *