Membersihkan Judi dari Bisnis Pelacuran di Makau

macau-casino-economy-

 Danang Mada, 25 tahun, ingat betul ketika berkunjung ke Makau pada 2009. Ia mewakili tim basket Indonesia dalam ajang Kejuaraan Basket Pelajar Asia yang diselenggarakan di wilayah bekas jajahan Portugal itu. 

Saat itu ia masih duduk di kelas satu SMA. Ia ingat bagaimana selebaran layanan seksual berserakan jalanan, bahkan hingga terselip di pintu-pintu kamar hotel.

Makau, sebuah kota administratif di Cina selatan yang dulunya pulau, menghadirkan segala kenikmatan duniawi yang di tempat lain diatur ketat, bahkan dilarang. Judi dan prostitusi adalah salah duanya. 

Sebelum prostitusi, Makau memang lebih dahulu dikenal sebagai surga judi Asia. Deretan kasino membanjiri jalanan dan siap menampung para penjudi dari seluruh penjuru dunia.

Ingar bingar dan gemerlap kamar judi yang mendatangkan banyak turis-turis asing berkelindan dengan geliat urusan prostitusi. Selebaran yang isinya layanan seksual, sauna hingga tarian erotis bertebaran lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.

“Selebaran-selebaran gitu banyak banget, di jalan-jalan. Di mana-mana ada selebaran seperti itu. Kayak pamflet isinya gambar ceweknya lengkap dengan nomor telepon. Jadi di hampir tiap hotel kayaknya ada juga lantai khusus untuk layanan seks,” tuturnya kepada Tirto, Selasa (18/9).

Danang menyebut Makau sebagai kota modern yang tak pernah tidur. Gemerlap lampu, dentuman musik, hotel dan kasino besar maupun kecil, berdampingan dengan dengan bisnis lendir. 

Rupanya Danang tak sendirian. Keheranan seputar selebaran esek-esek itu juga dialami oleh warga Makau sendiri. “Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini kepada anak-anak saya,” kata Huang di Macau Polytechnic Institute dikutip dari CNN.

Baca Juga :   Pengacara Fredrich Yunadi Tidak Melaporkan Pimpinan KPK ke Polisi

Berbeda dari Cina daratan, KUHP Makau adalah warisan Portugal. Dalam pasal 163 KUHP Makau, menjual layanan seks—alias melacurkan diri sendiri—dinyatakan “tidak ilegal”. Namun pasal selanjutnya, 164, menyatakan bahwa siapa pun yang memfasilitasi atau membantu orang lain untuk menjajakan layanan seksual serta memungut keuntungan darinya bisa dipidana. Tindakan tersebut dianggap sepadan dengan kejahatan terorganisir.

Dalam praktiknya, yang terjadi adalah sebaliknya: lebih banyak yang dilacurkan ketimbang melacurkan diri sendiri. Ada banyak pula perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia dan terperosok ke dalam dunia pelacuran. Mereka ditawari pekerjaan di kasino. Namun, ketika sudah datang dan masuk, mereka malah disuruh menjadi pelacur dan masuk dalam lingkaran prostitusi.

Masalahnya, jaringan prostitusi juga sepaket dengan bisnis kasino. Di Makau, jaringan kasino sejak 1960-an telah dimonopoli perusahaan SJM Holdings Ltd milik Stanley Ho yang dijuluki “Raja Judi”.

Setelah lima dekade lebih, pada 2015 otoritas Makau bergerak menindak praktik prostitusi ilegal yang melibatkan sindikat internasional, termasuk jaringan piaraan keluarga Stanley Ho. 

Dilansir dari The Irish Times, pada 2016 lalu, keponakan Stanley yang bernama Alan Ho diadili di Makau karena menjalankan jaringan prostitusi di Hotel Lisboa sepaket dengan bisnis kasino. Bisnis ini melibatkan 2.400 pekerja seks dan keuntungan yang diraih selama dua tahun diketahui mencapai 46 juta euro. Para perempuan pekerja seks yang mayoritas dari Cina daratan ini diduga dipaksa membayar 150.000 yuan per tahun untuk masuk ke lingkaran bisnis lendir di Hotel Lisboa. 

Baca Juga :   Mereka yang Keminggris Tak Pantas Jadi Korban Perundungan

Aksi bersih-bersih yang menyentuh jejaring raksasa Stanley Ho jelas tidak bisa dilakukan oleh pemerintah Makau sendirian tanpa dukungan otoritas yang lebih tinggi. Benar saja, rupanya langkah ini terkait langsung dengan kebijakan penguasa Cina daratan.

Diwartakan Bloomberg, aksi bersih-bersih prostitusi Makau bermula ketika Presiden Cina Xi Jinping melancarkan kampanye anti-penyuapan, penggelapan uang, dan berbagai jenis korupsi lainnya demi memperkuat dukungan publik terhadap Xi di seluruh wilayah Cina tanpa terkecuali.

Wakil Presiden Komite Reformasi Hukum Makau Lok Wai Kin mengatakan bahwa pemerintah setempat ingin supaya industri perjudian lebih teratur. Mereka juga berharap agar Makau bisa menjadi tujuan wisata aman yang tak cuma terkenal karena bisnis lendir. Langkah tersebut mulai direspons para pelaku bisnis resor dengan membangun tempat-tempat wisata buatan seperti kolam berombak, pantai imitasi, tempat kuliner kelas tinggi, dan lain sebagainya.

Judi Sebagai Panglima
Bagi penggemar judi, Makau adalah kiblat. Pendapatan kota ini dari judi sudah melampaui pendapatan Las Vegas di AS dari sektor yang sama, sampai-sampai dijuluki “Monte Carlo of the Orient” dan “Las Vegas of the East”.

Dari judilah sebagian besar pendapatan pemerintahan Makau berasal. Data terbaru Financial Services Bureau Macau yang dilansir GGRasia menyebutkan, sampai kuartal pertama 2018, pajak langsung dari permainan judi menghasilkan 84,5 persen dari total pendapatan pemerintah Makau yang sebesar MOP31,12 miliar (MOP adalah mata uang Makau) .

Pendapatan kotor dari rumah-rumah kasino pada kuartal pertama mencapai MOP76,51 miliar. Angka ini naik 20,5 persen jika dibandingkan 2017. Tahun ini, pemerintah Makau menargetkan pendapatan pajak senilai MOP82,41 miliar.

Baca Juga :   Nasib Terkini Sandi dan FZ, Penghina Jokowi Kafir

Makau memungut tarif pajak efektif dari hasil pendapatan kasino sebesar 39 persen. Rinciannya, 35 persen masuk ke kas pemerintah dan sisanya disebar untuk berbagai yayasan dan layanan masyarakat.

Bekas koloni Portugal ini pun jadi satu-satunya tempat di Cina yang membolehkan praktik judi secara legal. Beijing dan otoritas lokal Makau memang mendukung kebijakan yang bisa membesarkan industri perjudian di bawah badan pemerintah resmi bernama Gaming Inspection and Coordination Bureau.

Sejarah geliat industri permainan di Makau dapat ditelusuri pangkalnya hingga ke abad ke-16 saat daerah itu masih dikuasai Portugal. Sebagai wilayah pelabuhan yang menjadi tempat transit banyak orang, para pekerja konstruksi asal Cina daratan, kuli pelabuhan hingga pembantu rumah tangga mulai unjuk kebolehan dalam permainan yang berkembang menjadi praktik perjudian.

Pada 1842, untuk pertama kalinya pemerintah kolonial Portugal melegalkan judi demi pemasukan daerah yang lebih besar. Pasalnya, pusat pelabuhan dan perdagangan mulai bergeser dari Makau ke Hong Kong yang saat itu dikuasai Inggris.

Prostitusi di Makau nampaknya akan tetap lestari selama bisnis perjudian terus hidup dan diminati. Celah hukum prostitusi di Makau tak melarangnya selama tak dibekingi para mucikari dan pihak lain yang mempekerjakan para pekerja seks secara paksa. Terlebih lagi, pajak yang disetor dari pendapatan permainan judi sangat besar bagi pemerintah Makau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *